| Nasiruddin Ath-Thusi, Sang Pemikir dan Astronom Muslim Terkemuka dari Persia |
Nasiruddin
ath-Thusi, Dialah seorang ilmuwan yang cukup multitalent dibeberapa bidang
disiplin ilmu, bagaimana bisa? Dirinya yang dikenal sebagai seorang
Filsuf Muslim pun rupanya mengandrungi julukan lain seperti seorang
polimatik, astronom, bahkan seorang dokter.
Dan itu lagi lagi
karena ketekunan beliau dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu yang dimulainya
sejak masih kecil. Maka tak heran jikalau beliau dianggap sebagai salah satu
tokoh yang cukup berpengaruh pada masanya, bahkan dianggap setara dengan teolog
besar Thomas Aquinas.
Dialah Abu Ja’far
Muhammad bin Muhammad bin al Hasan Nasiruddin ath-Thusi yang lahir pada tahun
1201 M di kota Thus (Sebelah timur laut Iran). Dimana waktu itu, dunia Islam
sedang mengalami titik kecemasan dikarenakan pembantaian yang dilakukan oleh
tentara mongol.
Sebagaimana yang
dipertegas oleh J.J. O’Connor dan E.F.Robertson. Dan beliau wafat pada tahun
1274 M di Baghdad yang berada di bawah pimpinan pemerintahan Abaqa (Pengganti
Hulagu Khan).
Latar Belakang
Pendidikan
Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya bahwa Nasiruddin ath-Thusi lahir ketika Islam sedang
mengalami titik kecemasan yang karena pembantaian yang dilakukan oleh tentara
Mongol.
Maka dari ketidakamanan itulah tercatat bahwa
banyak ilmuwan yang sulit dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, karena
berhubung sang ayah dari Nasiruddin ath-Thusi merupakan seorang ahli hukum di
sekolah Imam dua belas, maka wajar jika masa kecil Ath Thusi telah dididik oleh
sang ayah dan menimba ilmu di Sekolah Agama tersebut,
Selain itu, Ath Thusi juga banyak belajar dari
guru guru lainnya. Seperti belajar Ilmu Matematika di Muhammad Hasib di
Nisaphur, maupun belajar Fiqh, Ushul, Hikmah dan kalam terutama
Isyaratnya Ibnu Sina dari Masdar.
Sampai pada akhirnya beliau ke Baghdad, disanalah beliau belajar filsafat dari Quthbuddin, matamematika dari Kamaluddin bin Yunus dan Fiqh dan Ushul dari Salim bin Badran.
Sepanjang perjalanan
beliau dalam mengembara dalam menuntut ilmu, sampailah pada tahun 1220 M, dimana
Invasi militer Mongol telah mencapai Thus dan menghancurkan tempat tersebut
(tempat asal Nasiruddin ath-Thusi).
Sehingga memandang hal
ini, Penguasa Ismailiyah Nasiruddin ‘Abdurrahim pun mengajaknya untuk
bergabung, tentu tawaran yang tak akan disia siakan, Nasiruddin bergabung
menjadi salah seorang pejabat di Istana dan dari sanalah, Nasiruddin mengisi
waktunya untuk menulis.
Karya Karya Ath-Thusi
Ketika beliau
dikatakan sebagai filsuf, tentu bisa kita perkirakan bahwa karya karyanya akan
tertuang secara keseluruhan pada disiplin ilmu Filsafat, akan tetapi seperti
yang banyak diutarakan oleh sejarah bahwasanya Nasiruddin ath Thusi adalah
seroang multitalent, ahli di berbagai disiplin Ilmu maka tak heran jika karya
karya pun meliput berbagai disiplin ilmu. Diantaranya :
Dibidang Logika
– Asas al Iqtibas
– Al Tajrid fi al Mantiq
– Ta’dil al Mi’yar
Dibidang metafistik
– Risalah dar Ithbat I wajib
– Mujarrad
– Risalah ‘Illal wa Ma’lulat Fushul
– Talkis al Muhassal
Dibidang Etika
– Akhlak i Nashiri
– Ausaf al Asyraf
Dibidang Astronomi
– Al Mutawassithat Bain al Handasa wal Hai’a
– Kitab al Tazkira fi al’ Ilmal hai’a
– Al Tahsil fil an Nujum
– Kitab al Bari fi Ulum at Taqwim wa Harakat al Afak wa Ahkam an Nujum
Dibidang optik
– Tahrir Kitab al Manazir
– Mabahis Finikas Ash shur’ar wa In Itaafiha
Adapun karyanya
dibidang etika yakni Akhlak
i Nashiri, rupanya merupakan sebuah kitab yang bersifat ringkasan
dari kitab Tahzib al
Akhlaq (Karya Ibnu Miskawaih)
dengan format dan klasifikasi yang sepenuhnya merupakan buah pikir ath Thusi.
Dan ini berawal dari
perintah sang gubernur Nashiruddin Abdurrahman (Gubernur Islamiah dari
Quhistan) yang memintah Nasiruddin ath Thusi menerjemahkan kitab Tahzib al
Akhlaq dari bahasa Arab ke bahasa Persia.
Namun karena sebagai
pembaca, Nasiruddin Ath Thusi melihat ada kekurangan seperti tidak dibahasnya
masalah rumah tangga dan politik yang diakui ath Tthusi sebagai dua point penting,
maka tak heran jika beliau memasukkan dua point tersebut dengan meleburkan
pemikiran al Farabi dan Ibnu Sina.
Latar
belakang Nasiruddin membangun Observatorium Maragha
Yang cukup berpengaruh
dalam hidup seorang ath Thusi ialah pasukan mongol yang tiada henti masuk
menjajahi tempat dimana beliau berada. Usai menghancurkan tempat kelahirannya,
ternyata mereka kembali menghancurkan Istana Alamut pada tahun 1251 M, bukannya
dibantai atau dibunuh, ternyata ath Thusi malah diperlakukan secara hormat oleh
sang pimpinan pasukan tersebut, dan ini terjadi karena sang pemimpin pasukan,
Hulagu Khan sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Karena dianggap
sebagai orang yang berilmu, maka wajar rasanya jika ilmuwan satu ini diangkat
sebagai penasehat Hulagu Khan yang merupakan tokoh bengis dan yang telah
membumihanguskan kota metropolis intelektual Baghdad pada tahun 1258 M.
Karena ath Thusi telah
bersama dengan Hulagu Khan, maka pada tahun 1259 M, beliau pun membangun
Observatorium Maragha seperti yang telah direncakan sebelumnya. Meskipun
beberapa sumber lain seperti yang dikutip dalam buku Filsafat Islam karya dari
Dedy Supriyadi bahwa, pembangunan Observatorium ini berdasarkan hasil bujukan
Nasirudin ath Thusi kepada Hulagu yang mana Observatorium ini dilengkapi dengan
alat alat yang paling baik, dan sebagian diantaranya baru diciptakan untuk
pertama kalinya.
Bahkan untuk
menyempurnakan Observatorium ini yang mulai beroperasi pada tahun 1262 M,
rupanya ath Thusi membangun juga perpustakaan disana yang mana koleksi buku
bukunya cukup lengkap dengan berbagai disiplin Ilmu. Dan atas keberhasilannya
dalam mengembang Observatorium ini, beliau juga membuat table pergerakan planet
yang cukup akurat.
Semoga bermanfaat!
Sumber: Buku Pengantar Filsafat Islam oleh
Dedy Supriyadi (Bandung: Pustaka Setia, 2009)

0 Comments