Nama Ibnu Sina tidak asing lagi di dunia, dari zaman dahulu ketika
ia menemukan berbagai macam kemudahan untuk umat manusia, sampai saat ini
namanya harum dan terus dibanggakan.
Ibnu Sina dikenal sebagai
bapak kedokteran. namun bukan hanya dikalangan muslimin, Ibnu Sina juga dipuja
di Eropa.
Meski sudah lama lama wafat,
tetapi orang terus belajar padanya melalui buku dan karya yang ditinggalkan.
Bahkan karya peninggalan Ibnu
Sina menjadi rujukan mahasiswa kedokteran dunia.
Peninggalan Ibnu Sina bukan
karena tanpa sebab, Ibnu Sina terkenal dengan sosok yang tidak pernah berhenti
untuk belajar, sering mengunjungi perpustakaan. Ia juga sangat ikhlas dan
telaten merawat pasien sehingga mendapatkan pengetahuan baru dari
pengobatannya.
Dari pasien-pasien berobat
padanya, Ibnu Sina mendapatkan pengetahuan baru, sehingga dari praktek
pengobatan itu ilmunya semakin berkembang pesat.
Ibnu Sina selain menjadi
seorang ilmuan, ia juga seorang Gubernur Khormithan.
| Biografi Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Muslim yang Dipuji Dunia, Ini Karya-Karyanya |
Bukunya Al-Qanun fi Al-Tibb (buku pedoman
kedokteran) merupakan buku yang terluas dipergunakan oleh kalangan kedokteran
baik daerah Islam, maupun Eropa, dimana buku tersebut diterbitkan di dalam
terjemahan Latin. Bahkan, buku aslinya dalam bahasa Arab dicetak di Roma pada
tahun 1593 M, tidak lama setelah adanya percetakan bahasa Arab.
Terutama pada abad ke-16 M,
buku tersebut mempunyai pengaruh besar di kalangan kedokteran. Namun, buku ini
masih dipergunakan juga sampai abad ke-19.
Ibnu Sina juga seorang filsuf.
Salah satu filsafat Ibnu Sina adalah filsafat jiwa. Ibnu Sina memberikan
perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan.
Keberhasilannya dalam
menjabarkan metode-metode terapi jiwa secara praktis telah memberikan
konstribusi yang besar bagi kemajuan sains Islam. Namun, nama Ibnu Sina barangkali
hanya terdengar sebagai seorang dokter atau ilmuan muslim, tetapi lebih dari
itu banyak yang tidak mengenalnya.
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ibnu Sina
Abu Ali Husan bin Abdullah bin Sina atau Ibnu Sina (980-1037 M),
dikenal di dunia Barat dengan Avicenna dan juga “Pangeran Para
Dokter”.
Dia juga memperoleh gelar
Al-Syaikh al-Ra’is (Pemimpin Orang Bijak) sebutan yang diberikan dari
murid-muridnya dan Hujjat al-Haqq (Bukti Sang Kebenaran/Tuhan), yang masih dikenal di
Timur.
Ibnu Sina dilahirkan pada tahun
370 H (980M) di Afshanah, desa kecil dekat Bukhara Ibukota
Dinasti Samaniyyah, sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari
Persia).
Ayahnya bernama Abdullah yang
berasal dari Balkh, bertemu dan menikah dengan Sitarah. Saat Ibnu Sina berumur
5 tahun, keluarga ini pindah ke Bukhara pada masa pemerintahan Nuh ibn Mansur.
Disitulah ayahnya diangkat
menjadi Gubernur Khormithan, sebuah desa di pinggiran kota Bukhara. Ibnu Sina
berasal dari keluarga bersekte Ismaili.
Meskipun pemikiran Ibnu Sina
dipengaharui oleh sekte Ismaili, namun ia seorang yang independen, dia
mempunyai pandangan tersendiri dan mandiri dalam usaha menemukan hakikat
kebenaran, baik dibidang filsafat maupun bidang keagamaan.
Ibnu Sina memiliki kecerdasan
dan ingatan yang luar biasa sehingga dapat menyusul keilmuan para gurunya pada
usia 14 tahun.
Karya-Karya Ibnu Sina
Dalam buku karya Al-Qifti Tarikh al-Hukama’ ada deskripsi
terperinci 21 buku utama Ibnu Sina dan 24 buku yang lebih kecil yang berisi
tentang obat-obatan, filsafat dan sains. Selain itu, ia juga menulis seratus
lebih buklet dengan subjek berbeda-beda seperti geometri, aritmatika, bahasa,
musik, ‘ilmu a-kalam dan lain-lain.
Dari semuanya itu, yang
dianggap terpenting oleh para ahli adalah :
Kitab Asy-Syifa’
Kitab ini merupakan
ensklopedia berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti filsafat, logika, dan ilmu
pengetahuan alam.
Kitab an-Najah
Kitab ini ditulis bagi
orang-orang khusus yang terpelajar yang ingin mengetahui dengan lengkap
dasar-dasar ilmu hikmah.
Kitab Asbab Huduts Al-Huruf
Dalam buku ini Ibnu Sina
membahas apa yang saat ini dikenal dengan ilmu fonetis (suara). Dia
memadukan antara studi fonetis pada dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa
Persia.
Kitab al-Isyarah wa at-Tambihat
Terdiri dari tiga jilid, yang
membicarakan logika, fisika, dan metafisika, merupakan karya terakhir yang
dihasilkan Ibnu Sina
Kitab Qanun fi At-Thibb
Konstribusi terpenting Ibnu
Sina yang diwariskan kepada dunia kedokteran adalah masterpiece-nya dalam ilmu
medis, yaitu al-Qanun fi al-Tibb.
Keilmuan Ibnu Sina Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Pada abad ke-12, beberapa karya Ibnu Sina mulai diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin, diantaranya otobiografinya seperti diriwayatkan oleh
al-Juzjani, bagian logika dan fisika dalam Al-Syifa dan seluruh metafisikanya.
Konstribusi besar Ibnu Sina
terutama pada karya terbesarnya yang berjudul al-Qanun fi al-Tibb (The Canon
of Medicine).
Buku ini merupakan karya
ensiklopedi yang mencakup kombinasi sistem medis Arab dan Yunani, dengan
tambahan pengalaman personal Ibnu Sina.
Buku ini membahas tentang
penyakit mengenai klasifikasi, penjabaran, dan penyebab-penyebabnya, dan
memberikan terapi dengan higiene, fungsi-fungsi bagian tubuh, gangguan
psikologi dan berbagai topik lainnya.
Pandangan-pandangan Ibnu Sina
baik pandangan ilmiah atau filosofis, mulai mempengaharui pusat-pusat belajar
dari abad ke-12 dan seterusnya.
Salemo dan Montpellier begitu
terpengaruh oleh kedokterannya, sedang Paris dan Oxford oleh filsafatnya.
Pengaruh Ibnu Sina juga terlihat jelas dalam tulisan-tulisan William dari
Auvergne dan Roger Bacon, yang memujinya dan Albertus Magnus, St. Thomas, yang
argumen ketiganya atas bukti eksistensi Tuhan secara esensial adalah argumen
Ibnu Sina.
Demikian pembahasan mengenai Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Muslim
yang Dipuji Dunia, Ini Karya-Karyanya, sebagai umat muslim, tentunya kita harus
mengetahui sejarah muslim yang cukup memberikan pengaruh pada dunia. (Mediapeneliti.com/Syamsul Azman)

0 Comments